Teh Poci

Aulia Meidiska
Kebiasaanku minum teh poci sudah berlangsung sejak kecil. Engkong—panggilan kakek dalam keluarga kami, adalah orang pertama yang memperkenalkan kenikmatannya. Setiap sore, Engkong menyeruput secangkir teh poci dengan sebongkah kecil gula batu dan beberapa potongan pisang goreng. Terkadang, pisang goreng berganti menjadi poffertjes. Terkadang onde-onde atau kue ku. Kami biasanya menghabiskan waktu minum teh sore di kebun belakang, Engkong dengan koran sorenya, aku dengan majalah Bobo.
Aku sempat bertanya pada Engkong tentang apa yang ia suka dari teh poci. Ia bilang rasa teh poci amat khas, berbeda dengan rasa teh celup atau teh yang dihidangkan dalam cangkir porselen biasa. Rasa teh yang dihidangkan dalam teko tanah liat dan diminum dari cangkir tanah liat adalah rasa yang membumi, katanya. Selain itu, menurut Engkong teh poci punya rasa yang magis. Terkadang ada pula rasa nostalgia yang membawanya kembali ke masa lalu. Sewaktu kecil, aku pikir yang ia maksud dengan rasa nostalgia adalah tentang ingatannya minum teh poci saat ia muda. Ternyata penjelasan Engkong punya makna yang lebih harfiah dari interpretasiku.
***
Saat kelas 3 SD, aku baru tahu bahwa aku memiliki keturunan Tionghoa. Bu Asih, guru PPKn kami menanyakan tentang asal muasal orang tua kami berasal. Mendengar pertanyaan itu, aku pun menjadi gugup karena tidak tahu harus menjawab apa. Hal itu tentu berbeda dengan teman-temanku yang sangat mudah memberikan respons seperti Sunda, Batak, Jawa, Manado.
Lalu tibalah saatnya Bu Asih mendekati mejaku “Kalau kamu, Marina?” tanyanya. Aku hanya bisa melirik teman-temanku yang lain dan bergumam, aku hanya bisa menaikkan kedua bahu pertanda ketidaktahuanku soal asal-usul orang tua.
Sesampai di rumah, aku langsung menanyakan pada Mami. “Kamu keturunan Cina, Nak,” jawabnya cepat. Saat itu aku bingung kenapa aku tidak pernah tahu bahwa aku orang Cina. Kedua mataku besar, kulitku kuning langsat hampir kecoklatan, tidak berkulit putih bak teman-temanku yang berketurunan Cina lainnya. Namaku juga tidak mengindikasikan ras keluargaku. Di rumah, kami hampir tidak pernah membahas soal budaya Cina. Tidak pernah berbahasa Mandarin atau memasang ornamen yang memperlihatkan identitas kami. Setiap tahun, kami masih merayakan tahun baru Imlek. Pergi ke rumah saudara-saudara, mendapatkan angpao, dan terkadang ikut membakar hio untuk mendoakan kakek-nenek yang sudah meninggal. Sekalipun sebenarnya kami tidak beragama Buddha. Dulu Mami pernah beragama Buddha, sejak lahir hingga remaja. Bersekolah di sekolah Katolik mendorongnya untuk berpindah agama.
Saat aku menanyakan tentang asal-usul kami, Mami hanya bisa menceritakan soal orang tuanya yang sudah lahir di Indonesia meski kesulitan memiliki identitas sebagai warga negara Indonesia. Mereka bahkan harus menuliskan keterangan “anak luar nikah” pada akte kelahiran Mami. Mami yang lahir dengan nama Indonesia pun sebenarnya masih memiliki nama Cina: Ling Ling. Tapi tentu saja ia tidak menggunakan nama tersebut untuk panggilan sehari-hari. Besar dengan nama Indonesia, ia pun tidak memberikan anak-anaknya nama Cina. Ia bahkan mengakui bahwa namaku dan adik perempuanku dibuatnya se-Indonesia mungkin: Marina dan Kirana.
Sejak pertanyaan pertamaku pada usia 8 tahun itu, aku tidak lagi pernah membahas apapun tentang asal-usul dengan Mami atau anggota keluarga lainnya hingga tiba waktunya identitasku diuji. Ketika itu usiaku 15 tahun. Kami sekeluarga harus pindah ke Solo karena Papi direlokasi. Aku pun harus beradaptasi dengan sekolah dan teman-teman baru. Aku terkejut karena ternyata di sekolah swasta katolik itu mayoritas adalah keturunan Cina. Tapi, yang membuatku lebih terkejut lagi adalah mereka berbicara dengan bahasa dan aksen Jawa medok. Mereka juga dengan percaya diri mengakui bahwa mereka orang Solo. Hampir tidak pernah aku mendapat jawaban keturunan Tionghoa.
“Mam, kenapa teman-teman Rina bilang mereka orang Jawa, ya, bukan orang Cina?”, tanyaku polos sepulang sekolah suatu siang.
“Semua makhluk hidup memiliki caranya masing-masing untuk beradaptasi dan bertahan hidup. Bunglon contohnya, memiliki mekanisme pertahanan diri dengan mengubah warna diri menjadi serupa seperti latar tempat ia berada. Nah, seperti bunglon, kaum Tionghoa juga dikenal memiliki kemampuan berbaur dengan kebudayaan lokal sebagai cara bertahan hidup. Hampir di seluruh provinsi di Indonesia pasti ada komunitas orang Tionghoa. Tidak hanya di Indonesia saja. Di banyak negara di dunia juga pasti ada tuh kampung Cina,” terang Mami sambil menyiapkan makan siang di meja untukku.
“Mami kenapa enggak kasih aku nama Cina? Temen-temenku di sekolah katanya masih punya nama Cina walaupun enggak dicantumin di akte,” tanyaku. Mami tertegun dengan pertanyaanku dan malah merespon dengan pertanyaan lain, “Kamu mau punya nama Cina?”
Pertanyaan balik Mami membuatku berpikir. Selama ini aku tidak pernah terang-terangan mengakui identitasku sebagai orang Cina. Apakah kalau sudah punya nama Cina nantinya aku harus belajar bahasa Mandarin? Atau aku harus melakukan berbagai ritual orang Cina seperti anggota keluarga Mami lainnya? Memasang dupa, melipat dan membakar uang arwah untuk leluhur yang sudah meninggal, dan menghafal kalendar Cina untuk tahu kapan menjalankan ritual budaya? Pertanyaan-pertanyaan ini pun membuatku tak bisa menjawab Mami. Jujur saja, aku bingung harus bangga atau tidak menjadi orang Cina saat itu. Terlalu banyak polemik tentang orang Cina di Indonesia. Apalagi setelah tragedi 1998 yang membuat orang Cina di Indonesia takut mengakui identitasnya. Walau aku tidak pernah mengalami rasisme, tetapi aku juga tidak pernah mengalami peristiwa membanggakan menjadi orang Cina.
Menjelang sore di hari yang sama, aku berpamitan pada Mami untuk membeli teh untuk sesi minum teh pociku. Aku merasa beruntung karena di Solo terdapat merek teh yang sering digunakan oleh Engkong minum teh poci. Teh yang didistribusikan langsung dari tempat teh poci berasal dari Slawi, Tegal. Setiba di toko, aku merasa tidak yakin untuk masuk karena tampilan luar toko yang terlihat kusam dihiasi dengan lampion-lampion yang berdebu. Dari luar terlihat rak-rak kayu berisikan kotak-kotak kaleng teh warna-warni di belakang etalase sang penjual. Menekan ketidakyakinanku untuk masuk demi kenikmatan secangkir teh poci, aku melangkahkan kaki ke depan etalase penjual. Dari balik kaca matanya yang sedikit turun ke hidung, ia melirik luar etalase sambil tetap memegang koran.

“Cari apa?”, tanyanya tak acuh.
Sambil menelan ludah aku menjawab, “Ehm..ada teh merek Mei Hua khusus untuk teh poci?”
Konstan sang penjual berkumis tipis itu terkejut mendengar pertanyaanku. Ia langsung menutup koran dan berdiri, “Tahu dari mana merek teh itu di sini?”
Aku tidak berani lansung menjawab. Dalam hati aku bingung kenapa dipertanyakan demikian. Seolah merek teh itu tidak wajar dibeli. “Da… dari internet.”
Kini sang penjual melihatku dari atas ke bawah seperti mempertanyakan alasan kehadiranku berada di sana. “Merek ini sedikit yang tahu,” ia tidak beranjak untuk mengambilkan teh yang kutanya dan seolah juga tidak berniat untuk memberikannya padaku.
“Du… dulu Eng… eh kakek saya sering minum. Saya suka temani kakek minum teh itu”, suaraku terdengar gugup.
Akhirnya sang penjual beranjak dari tempatnya berdiri dan memasuki pintu yang berada di sudut ruangan. Kurang lebih 5 menit ia berada di sana dan keluar membawa kotak kaleng teh Mei Hua. “Ini teh istimewa. Jangan dihabiskan cepat-cepat. Kalau mau dapat pengalaman rasa berbeda, seruput teh sambil tutup mata, lalu pikirkan hal-hal yang ingin kamu tahu.” Aku mengernyitkan kening dan bertambah bingung, lalu mempertanyakan dalam hati maksud ucapan sang penjual. Tanpa ingin terlalu memikirkan perkataannya, aku hanya mengiyakan kemudian membayar dan membawa pulang teh tersebut.
Sampai di rumah, aku langsung merebus air panas dan menuangkan ke dalam poci tanah liat yang sudah berisikan daun-daun teh merek Mei Hua. Tak lama, aku tuangkan teh itu ke dalam cangkir tanah liat dan memasukkan sebongkah gula batu serta mengaduknya perlahan. Tiba-tiba aku teringat anjuran minum teh dari sang penjual. Saat menyeruput aku menutup mata kemudian mulai memikirkan hal apa yang ingin aku ketahui belakangan.
Apakah aku harus bangga berketurunan Cina?
Entah dari mana pertanyaan itu terbersit dalam pikiranku. Mungkin karena baru saja membahas tentang nama Cina dengan Mami. Tidak lama berselang, aku mengantuk hingga tak sadar memejamkan mata lebih lama.
***
Aku melihat sesosok pria yang mirip dengan Engkong tetapi dalam usia yang masih muda. Ia terlihat gagah dengan busana layaknya di masa penjajahan Belanda. Aku berjalan menghampirinya tetapi ia seperti tidak melihat kehadiranku. Kemudian seorang pria lain datang menghampirinya yang sedang duduk di teras rumah. Mataku terbelalak melihat pria itu. Mantan Presiden Soekarno! Aku merinding melihat apa yang ada di hadapanku. Ini pasti mimpi.
“Martin, apa kabar?”, tanya pria dengan wajah Presiden Soekarno itu, “Terima kasih sudah bersedia memberikan saya tempat tinggal selama berada di Karawang. Saya tidak akan pernah melupakan jasamu untuk negeri ini.”
Aku terheran-heran mendengar percakapan mereka karena nama Indonesia Engkong adalah Martin. Jadi yang ada di hadapanku ini benar Engkong ketika masih muda? Rasanya seperti mimpi tetapi di saat yang sama juga seperti nyata. Tak lama aku merasa mengantuk lagi. Tanpa sadar aku sudah memejamkan mata. Tapi saat membukanya, aku tidak terbangun di rumah melainkan di tempat lain. Di sebuah kamar bernuansa Eropa dengan seorang bule yang sedang duduk menulis buku hariannya. Wajahnya mirip salah satu pria di buku sejarahku. Aku berusaha mengingat siapa dia.
Sir Thomas Stamford Raffles!
Tapi seperti sebelumnya, ia juga tidak merasakan kehadiranku. Aku mengintip apa yang ditulisnya. Semuanya dalam bahasa Inggris, dan aku mengerti semuanya. Ia menulis tentang kedelai dan kecap yang berasal dari para pelaut dan pedagang asal Cina. Dalam tulisannya ia juga menceritakan bagaimana kecap masuk ke Nusantara—sebelum bernama Indonesia. Ternyata kata kecap berasal dari bahasa Hokkian yaitu chiap, kicap atau kitjap. Awalnya kecap dari pendatang Cina hanyalah kecap asin. Lambat laun, masyarakat lokal mengadaptasi kecap asin menjadi kecap manis, disesuaikan dengan lidah warga lokal.
Ternyata, oh, ternyata! Kecap yang jadi konsumsi sehari-hari masyarakat Indonesia modern berasal dari Cina! Dari asal muasal nenek moyangku! Bahkan informasi itu terkeam dalam catatan harian sosok bersejarah Sir Raffles!
Selagi keriangan merasuki diriku, aku merasa mengantuk lagi dan kembali memejamkan mata. Saat kembali membuka, aku berada di sebuah daerah yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Di sana terdapat sebuah toko dengan nama Teh Tong Tji dengan alamat yang tertera di Slawi, Tegal, Jawa Tengah. Sepanjang jalan banyak orang berkerumunan untuk membeli teh di toko tersebut. Banyak orang yang tiba-tiba bercerita pada satu sama lain tentang kedatangan kaum Cina ke Tegal dan membawa budaya minum teh. Budaya minum teh di sana pun melebur dengan budaya lokal yang kemudian melahirkan budaya “moci”, budaya minum teh dengan wadah poci yang terbuat dari tanah liat.
Tidak berapa lama, aku seperti tersedot ke dalam ruang waktu dan saat membuka mata, aku sudah kembali berada di teras rumah dengan sebuah keyakinan tentang identitasku sebagai keturunan Tionghoa. Entah mimpi atau memang betul-betul menginjakan kaki di masa lalu, tetapi aku merasakan sedikit rasa bangga memiliki darah Tionghoa. Buru-buru aku mencari Mami.
“Mi, gimana kalau Mei Hua untuk nama Cinaku? Bagus enggak?” ucapku sumringah.
