Tentang Alitra

Pusat Literasi

Publikasi

Kontak Alitra

Korporasi

Masihkah “Kita” Salah Menggunakan Kata “Kami”?

Oct 6, 2024 | Esai

by Suci Amalia

Tahu enggak sih, walaupun terdengar seperti memiliki makna yang sama, ternyata pronomina “kami” dan “kita” memiliki pemaknaan yang berbeda, loh! Nah, hal seperti itu di dalam dunia linguistik (bahasa) disebut dengan istilah klusivitas, yaitu sebuah konsep bahasa yang digunakan untuk menggambarkan hubungan si pembicara dengan lawan bicaranya. Secara bahasa, klusivitas terbagi menjadi dua jenis, yaitu insklusif dan juga ekslusif.

Apa bedanya?

Ketika kamu sedang berbicara dengan seseorang dan melibatkannya menjadi satu kesatuan subjek, maka hal ini dapat dimaknai sebagai klusivitas inklusif. Hal ini terjadi pada pronomina “kita” yang dapat dimaknai menjadi aku dan kamu atau aku, kamu, dan dia. Hal tersebut tentunya berbanding terbalik dengan inklusivitas ekslusif yang tidak menyertakan lawan bicaranya seperti yang terjadi pada pronomina kami yang bermakna “aku dan dia” atau “aku dan mereka”. Nah, uniknya hal kayak gini terjadi memang enggak terjadi di banyak bahasa. Pembedaan ini lazim ditemukan pada bahasa-bahasa Sinitik dan rumpun Austronesia, termasuk bahasa Indonesia, tetapi tidak pernah ditemukan pada bahasa-bahasa Eropa di luar Kaukasus, seperti bahasa Inggris. Maka, sebagai bangsa Indonesia kita wajib bangga karena memiliki ragam bahasa yang sangat kaya.

Walaupun terlihat sederhana, kedua pronomina ini sebetulnya sangat penting loh untuk kita pahami, terutama untuk para penulis konten di era digital seperti saat ini. Sebab, penggunaan yang tepat dari kata-kata klusivitas dapat membantu dalam menciptakan pemahaman yang jelas dan menghindari kesalahpahaman saat berkomunikasi dengan orang lain.

Kayak gimana tuh contohnya?

Gini, coba deh bayangin, semisal kamu adalah seorang penulis konten yang harus membuat campaign sebuah acara yang salah satu targetnya adalah menghadirkan peserta sebanyak mungkin, tapi ternyata kamu enggak paham betul kontekstualisasi penggunaan kata kita dan kami, maka hal tersebut bisa aja menyebabkan campaign yang sedang kamu jalankan tidak berjalan secara maksimal. Contoh perbandingannya seperti pada kalimat:

Mari saksikan penampilan kita di bulan Juli

Mari saksikan penampilan kami di bulan Juli

Ketika seseorang membaca kalimat pertama, maka yang terbesit di pikiran para pembaca adalah bahwa dirinya akan diikutsertakan sebagai pengisi acara di dalam pementasan tersebut, alias kehadirannya nanti bukan hanya sebagai penonton tapi juga sebagai pengisi acara. Namun, ketika seseorang membaca kalimat kedua, maka mereka akan mengartikan bahwa pentas tersebut akan dimeriahkan oleh penampilan sebuah group suara dan si pembaca campaign hanya menjadi penonton semata.

Gimana? Dari contoh sesederhana ini aja udah bisa bikin tulisanmu jadi semrawut dan memiliki ambiguitas bagi para pembaca, bukan?

Jadi, yuk mulai sekarang kenali bahasa Indonesia lebih dalam lagi, agar apa yang kamu tulis enggak bikin pembaca bingung untuk mengartikannya.