Tentang Alitra

Pusat Literasi

Publikasi

Kontak Alitra

Korporasi

Bahasa, Sejarah, dan Propaganda

Oct 5, 2024 | Esai

Suci Amalia

Subjektivitas dalam penulisan sejarah memang suatu hal yang tidak dapat dihindari oleh para sejarawan. Dampaknya, beberapa sejarah yang kita terima saat ini ternyata luput dari fakta-fakta yang sesungguhnya. Selayaknya sebuah mitos yang dipercayai turun temurun, beberapa fakta sejarah yang kita terima saat ini memang ada yang belum selesai untuk dibuktikan kebenarannya. Misalnya seperti pada sejarah peristiwa Gerakan 30 September (G30S).

Peristiwa yang telah terjadi berpuluh-puluh tahun lamanya itu ternyata masih menjadi tanda tanya bagi beberapa pihak sehingga mereka tergerak untuk menelusuri peristiwa tersebut hingga saat ini. Umumnya, mereka terpecah menjadi tiga golongan. Pertama, beberapa pihak  termasuk pemerintah Indonesia yang berkuasa saat itu dan para sejarawan yang menggambarkan Peristiwa G30S/PKI sebagai upaya kudeta militer oleh sekelompok anggota militer yang terafiliasi dengan PKI. Mereka berpendapat bahwa tujuan peristiwa ini adalah untuk mengambil alih pemerintahan dan melengserkan Presiden Sukarno. Kedua, sejumlah individu dan kelompok yang berpendapat bahwa Peristiwa G30S/PKI adalah hasil dari manipulasi politik yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pihak asing. Mereka mengklaim bahwa kejadian tersebut digunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk menggulingkan PKI dan memantapkan kekuasaan Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto. Pandangan ini menganggap bahwa sebagian besar tokoh PKI tidak memiliki peran aktif dalam peristiwa tersebut. Terakhir, mereka adalah golongan yang melihat Peristiwa G30S/PKI sebagai usaha revolusi sosial yang dilakukan oleh PKI dan sekutunya dengan tujuan menggulingkan pemerintahan yang mereka anggap korup dan tidak pro-rakyat. Mereka memandang peristiwa ini sebagai bagian dari perjuangan kelas pekerja dan petani untuk memperoleh keadilan sosial dan ekonomi.

Seiring berjalannya waktu, berbagai versi dan interpretasi tentang peristiwa ini terus berkembang, dan banyak upaya penelitian sejarah yang berusaha untuk mengungkap fakta-fakta yang lebih akurat tentang peristiwa tersebut. Namun, sayangnya sejarah yang merupakan cerminan masa lalu tersebut menjadi semrawut dan buram karena peran bahasa yang dapat membelokkan fakta-fakta sejarah.

Pada dasarnya, bahasa sering digunakan sebagai senjata retorika dalam agenda propaganda melalui usaha pemalsuan dokumen-dokumen penting dapat diedit dan ditulis ulang untuk menyembunyikan fakta atau peristiwa tertentu yang mungkin tidak diinginkan oleh beberapa pihak. Hal ini umumnya terjadi di dalam ranah politik. Misalnya, selama periode pemerintahan Orde Baru, peristiwa G30SPKI dianggap sebagai dosa besar PKI secara utuh kepada para jenderal angkatan darat yang terbunuh. Bahkan, usaha doktrinasi yang terjadi di kehidupan sosial terhadap perspektif tersebut terus-terusan didukung oleh pemerintah Orde Baru lewat berbagai medium bahasa dan sastra, seperti munculnya film G30SPKI yang disutradarai oleh Arifin C. Noer, Novel Pengkhianatan G30SPKI yang ditulis oleh Arswendo, dan juga penulisan-penulisan berita di media massa yang menampilkan berbagai narasi mengenai peristiwa yang sulit dibuktikan keberadaannya tersebut.

Dengan menggunakan media massa sebagai alat pendukung propaganda, fakta sejarah yang disembunyikan melalui permainan bahasa akan semakin tersebar luas sehingga membentuk sebuah identitas budaya baru yang dapat memengaruhi pandangan masyarakat terhadap sejarah.

Selain itu, bahasa juga dapat digunakan sebagai alat yang dapat menekan atau mengabaikan aspek-aspek tertentu dari peristiwa sejarah. Sehingga penulis yang berpihak pada suatu kelompok  dapat menyajikan informasi yang mendukung argumennya sambil mengabaikan atau meremehkan.  Hal tersebut tentu saja menjadi bukti bahwa bahasa memiliki peran yang penting bagi para pemimpin dari sebuah organisasi atau kelompok tertentu dalam memutarbalikkan fakta sejarah demi menciptakan narasi yang mendukung agenda mereka.

Tujuannya untuk apa? Tentu saja untuk memiliki kuasa atas sesuatu. Jadi, tidak heran kalau bahasa punya kekuatan sebesar itu untuk memperkuat atau sebaliknya melemahkan satu pihak atas pihak lainnya. Melalui bahasa, satu bangsa bahkan sebenarnya bisa menguasai dunia, seperti bahasa Inggris, contohnya.